Disclaimer : BTS and all Kpop artists are not mine.
Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner,
while the plot is mine.
Genre : Romance, Friendship, Comedy, Fluff
"You’re My"
Chapter 10 :
My Feeling
Shin Taehyung
dan Shin Dongho berpandangan dengan muka cemas sementara sahabat sejak kecil
mereka melipat lengannya di depan dadanya dan menatap si kembar dengan tatapan
galak. Tampaknya apapun yang mereka berdua katakan tidak akan di terima semudah
itu oleh Oh Haneul. Gadis itu tampaknya luar biasa kesal pada mereka.
"Jadi
kalian yang memintanya melakukan hal itu." Kata Haneul dengan suara yang
tenang, yang justru membuat Taehyung dan Dongho gugup.
"Itu demi
keselamatanmu juga." Jawab Dongho.
"Tapi
menyuruhnya menjauh saat itu bukan keinginannya untuk menyakitiku.." Kata
Haneul. "Sudahlah, yang penting sekarang kalian tidak mengancam atau
melarang pacarku lagi."
Baik Dongho
maupun Taehyung membeku selama beberapa saat sebelum secara bersamaan
mencengkram tangan Haneul dari dua sisi dan memandang gadis itu dengan tajam.
Haneul berusaha mendorong mereka berdua namun sia-sia usahanya karena si kembar
memperkuat genggaman mereka.
"Apa
katamu tadi?" Kata mereka bersamaan. Haneul memukul tangan kedua pemuda
itu, namun sekali lagi si kembar tidak melepaskan cengkraman mereka sama
sekali. Melonggarkan saja pun tidak.
"Pacar."
Akhirnya kata Haneul, menyerah dan memutuskan untuk memberitahu kedua pemuda
itu walau tadinya ia bermaksud me'tease' mereka sebelum memberti tahu sejujurnya.
"Kami sudah resmi berpacaran dua hari yang lalu."
"KAU
BERCANDA." Teriak mereka berdua bersamaan sebagai respon. Haneul harus
menginjak kaki mereka berdua agar berhenti berteriak tidak jelas sebagai
lanjutan dari responnya itu.
"Tidak
mungkin, BAGAIMANA BISA?!" Tanya Dongho. Kelihatannya luar biasa shock
mendengar hal itu sementara Taehyung hanya membuka tutup mulutmya tanpa ada
suara lainnya yang keluar. Haneul memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali
memukul tangan kedua pemuda itu dan melepaskan diri dari cengkraman mereka.
"Reaksi
kalian seakan-akan aku baru saja mengumumkan kiamat dunia." Gumam Haneul
seraya mengelus tempat ia di cengkram tadi. Tentu saja terasa sakit karena
kedua pemuda itu tidak tanggung-tanggung lagi. "Kami berdua saling
mencintai, kenapa tidak?" Jawab Haneul dengan santai.
"Tidak!
Tidak bisa di terima!!" Kata Taehyung dengan suara keras, "Kami tidak
ak--hmph!" Kata-kata pemuda itu di potong dengan paksa oleh tangan Haneul
yang menutupi mulutnya.
"Tidak.
Kalian tidak akan mengubah keputusanku lagi." Ujar Haneul, dan dari nada
bicaranya, itu keputusan finalnya. Mendengar perkataan Haneul, Dongho dan
Taehyung akhirnya memutuskan untuk tidak mendebatnya lagi.
"Tapi
kalau ia membuatmu terlibat kesulitan lagi, kami tidak akan tinggal diam."
Gumam Dongho.
Haneul
mengibaskan rambutnya kebelakang dengan tidak sabar dan menatap Dongho.
"Kau terlalu cemas, memangnya apa yang akan terjadi?"
Namun
sayangnya, kata-kata Haneul terbukti salah. Berita dengan cepat tersebar dan
masalah pertama yang harus ia hadapi adalah menghadapi anggota kelompok
pacarnya sendiri.
"Jadi,
jika kalian menginginkan kalian aku mengundurkan diri, aku akan mengundurkan
diri." Kata Jimin dengan tegas. Ia baru saja membawa Haneul ke depan
anggota kelompok premannya dan menjelaskan situasinya. Haneul hanya berdiri di
sebelahnya dan bingung harus melakukan apa selain memberi dukungan mental pada
Jimin.
Seluruh preman
yang biasanya tidak bisa diam itu kini diam seribu hahasa. Bingung dengan apa
yang harus mereka lakukan ataupun katakan. Jimin telah mengusir Jackson dan
menyisakan Suga sebagai wakil tunggal, namun pemuda berambut merah itu tidak
mengatakan apa-apa dan malah menatap Haneul dengan pandangan yang tidak dapat
di mengerti maksudnya.
"Kurasa.."
Betapa kagetnya ketika J-hope lah yang pertama kali angkat suara, yang termuda
dari kelompok inti Jimin. "Tidak perlu mengganti ketua bukan? Tidak ada
salahnya bila Jimin hyung mempunyai pacar."
Kata-kata
J-hope membuat anggota yang lain menggumam setuju, namun tidak ada yang berani
membuat keputusan. Semua mata pada akhirnya tertuju pada Suga yany secara tidak
langsung penentu keputusan final kelompok itu.
"Aku
setuju dengan Hoseok." Kata Suga akhirnya, membuat seluruh kelompok
bersorak. "Walau aku perlu bicara berdua dengan Jimin."
Dengan enggan,
Jimin meninggalkan Haneul yang masih bersama kelompoknya dan mengikuti Suga
yang membawanya ke tempat yang cukup sepi sehingga tidak ada yang dapat
menguping pembicaraan mereka.
"Jangan
khawatir, mereka tidak akan melakukan apapun pada gadismu." Kata Suga.
Jimin
menggeleng, "Aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu sebenarnya."
Suga kembali menatap ketuanya dengan tatapan tidak jelas. "Jadi, apa yang
hendak kau bicarakan?" Lanjut Jimin.
Bukan
kata-kata yang dikeluarkan oleh Suga, melainkan sebuah pukulan melayang dan
tepat mengenai muka Jimin, membuat Jimin nyaris terjatuh ke belakang.
"Itu...yang
ingin ku katakan." Kata Suga. "Tenang saja, satu satunya pukulan yang
akan kuberikan padamu, dan aku tidak akan menentang mu lagi. Bahkan aku siap
menerima hukuman, ketua."
Jimin tidak
langsung menjawab. Sang ketua itu hanya menatap wakilnya selama beberapa lama
sebelum kembali memasang ekspresinya yang biasa. Tangannya terangkat. Sesaat,
Suga mengira Jimin akan memukulnya. Betapa kagetnya pemuda berambut merah itu
ketika tangan Jimin malah mendarat di pundaknya.
"Tenang
saja, aku tidak akan menghukummu."
Suga
mengernyit, "Tidak akan?"
"Kau juga
menyukainya bukan?"
Suga tidak
bisa membalas kata-kata Jimin. Pemuda itu hanya membuang mukanya yang sudah
mulai memerah. Jimin tertawa sebelum mencengkram pundak wakil sekaligus
sahabatnya dengan keras.
"Namun,
kau tidak akan kumaafkan bila kau merebutnya."
Suga menatap
Jimin, lalu terkekeh pelan.
"Aku juga
tidak akan memaafkanmu bila kau menyakitinya."
***
Shin Dongho
menghela nafas frustasi dengan sangat keras, sehingga orang-orang yang berada
disekitarnya menoleh dengan tatapan bingung padanya.
"Ada
apa?" Tanya Taehyung pada saudara kembarnya itu.
"Kau
terkena masalah?" Timpal Haneul yang juga bingung melihat tingkah Dongho.
Sang pemuda
yang ditanyai itu menatap kedua orang terdekatnya dengan muka sebal, ia tahu
maksud mereka baik tapi tetap saja..
"Bisakah
kalian berpacaran di tempat lain saja?"
Shin Dongho merasa
seperti kambing conge di meja itu. Siapa yang tidak? Taehyung duduk
berdampingan dengan Jina di sebelah kirinya, dan Haneul duduk bersama Jimin di
depannya, meninggalkan dia sendirian yang tidak memiliki pasangan.
"Tapi kau
yang memaksa duduk bersama kita." Kata Haneul, geli melihat tingkah
Dongho. Pemuda itu memang yang datang pada mereka karena meja lain di kantin
kampus itu sedang penuh, dan Dongho suka enggan duduk bersama orang yang tidak
ia kenal dekat.
Dongho
mengeluarkan erangan frustasi. Ia tahu bukan salah kedua temannya, tapi tetap
saja, itu membuatnya frustasi luar biasa.
"Kalau
begitu.." Kata Taehyung sambil menepuk pundak Dongho, "Carilah pacar
kawan." Kata-kata Taehyung membuat Haneul tertawa, dan tidak lama kemudian
di susul oleh Jina dan Jimin walau kedua kakak beradik itu melakukannya secara
diam-diam, merasa tidak enak pada Dongho.
"Bukankah
kau bilang kau menyukai seseorang?" Goda Haneul, mengikuti jejak Taehyung.
Keduanya bertukar pandangan iseng dan menunggu Dongho menjawab. Namun Dongho
menolak untuk menjawab. Pemuda itu malah merajuk dan akhirnya berjalan pergi ke
arah taman, meninggalkan Taehyung dan Haneul yang kembali tertawa.
Ia, Dongho,
memang mempunyai orang yang ia sukai. Namun kalau ia menyatakan perasaannya,
akankah ia diterima? Tidak lucu kan kalau dia, sang pangeran kampus, ditolak?
Ia ingin memastikan perasaan gadis itu padanya.
Gadis yang
mana lagi selain Park Soojin?
Sejak acara
kencan tidak resmi mereka, hubungannya dengan Soojin memang semakin dekat namun
tetap saja, Soojin masih terkesan menjaga jarak dengannya. Mungkinkah karena
dia adalah sang pangeran kampus? Untuk pertama kalinya, Dongho sangat berharap
dia bukanlah sang pangeran kampus.
Beberapa hari
kemudian, universitas mereka ramai dengan festival yang sedang berlangsung.
Setiap tahun sekitar kampus mereka selalu ramai dan di penuhi orang, tidak
hanya mahasiswa dan mahasiswi saja, tapi orang lain pun bisa datang. Orang tua
Dongho dan Taehyung adalah salah satunya.
"Sayang
Hyunseok dan Eunhee tidak bisa hadir." Kata Daehyun. Pria itu menelepon
Dongho dan Taehyung, meminta kedua putranya itu menemaninya berkeliling
universitas mereka walau Daehyun selalu datang tiap tahun. "Dan halo nona
Park, ku harap putraku memperlakukanmu dengan baik." Lanjut Daehyun pada
Jina yang berjalan di sebelah Taehyung.
Muka Jina
memerah. "I-ia memperlakukanku dengan baik kok." Jawabnya dan
Taehyung merangkul pundak pacaranya.
"Jangan
menggoda dia, Pa. Dia milikku."
Kata-kata
Taehyung membuat ayahnya tertawa terbahak-bahak. "Dongho, kapan kau akan
pacaran dengan Haneul?" Lanjut Daehyun.
"Tidak
akan pernah." Jawab Dongho dengan datar. "Lagipula Haneul sudah punya
pacar."
"Serius?
Siapa pemuda beruntung itu?"
Dongho dan
Taehyung berpandang-pandangan, seakan-akan berdiskusi tanpa suara mengenai
apakah mereka boleh memberi tahu soal Jimin pada orang tua mereka atau tidak.
Haneul sendiri telah berkata ia yang akan menjelaskan hubungannya dengan Jimin
pada keluarganya, namun entah apakah itu artinya si kembar boleh menceritakannya
pada keluarga mereka sendiri.
"D-dia..
kakakku." Jawab Jina, menyelamatkan si kembar dari kewajiban menjawab.
Daehyun tidak tau siapa siapa kakak dari Jina tapi ia mengangguk-angguk
seakan-akan mengerti dan mengenal semua orang.
"Wah!"
Daehyun menoleh ke arah Taehyung. "Berarti secara tidak langsung kau
saudara ipar dengan Haneul!" Katanya seraya menepuk-nepuk putranya itu.
Taehyung sendiri hanya meng-iya-kan ayahnya dan berharap Daehyun tidak mencari
tahu lebih jauh soal 'Pacarnya Haneul' ini.
Si kembar dan
Jina terjebak selama beberapa saat bersama Daehyun selama kurang lebih dua jam
sebelum berhasil melepaskan diri dari pria yang suka lupa umur itu, sifat yang
sebenarnya di wariskan kepada kedua anaknya itu.
"Semoga
papa tidak melihat Haneul.." Gerutu Dongho.
"Melihat
Haneul yang super sibuk dan Jimin yang lebih suka berkumpul dengan kelompoknya
di pojokan di saat seperti ini, kecil kemungkinan mereka terlihat
bersama." Sahut Taehyung. Pemuda itu tidak melepaskan tangan Jina bahkan
sejak mereka mengelilingi kampus mereka bersama Daehyun. Dan hal itu tentunya
membuat Dongho menggerutu tidak jelas.
Taehyung tentu
menyadari keadaan saudara kembarnya, dan itulah sebabnya ia semakin bersikap
mesra dengan Jina. Dongho semakin kesal dan mengalihkan pandangannya ke tempat
lain, menolak untuk melihat Taehyung dan Jina.
Pemuda itu
masih menggerutu kesal saat sesuatu menangkap perhatiannya. Park Soojin bersama
seorang pemuda yang Dongho kenal sebagai kakak dari gadis itu dan Park Minra,
sahabat Soojin, bersama seorang pemuda juga. Saat melihat Soojin, mau tidak mau
Dongho merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kau
sedang melihat apa?" Tanya Taehyung, menyadari bahwa saudara kembarnya
sedang menatap sesuatu. Dongho buru-buru mengalihkan pandangan, berharap
Taehyung tidak menyadari ia sedang menatap Soojin atau dia bisa di ejek
habis-habisan. Namun terlambat, Taehyung sudah melihat Soojin terlebih dahulu
sebelum Dongho bisa menyeret kembarannya pergi.
Cengiran jahil
mengembang di wajah Taehyung dan ia langsung membawa Jina serta menyeret Dongho
ke arah Soojin dan rombongannya. “Minra!!” Kata Taehyung, berpura-pura yang
hendak ia sapa adalah Minra walaupun sebenarnya tujuannya adalah membawa Dongho
mendekati Soojin.
Park Minra
menoleh, demikian dengan Soojin dan kedua pemuda yang lebih tua yang bersama
mereka itu. “Oh, sunbae-nim.” Kata Minra saat melihat Taehyung yang berjalan
mendekatinya. “Senior dari team sepakbola.” Lanjut Minra, namun bukan kepada
Taehyung tapi pada pemuda yang berdiri di sebelahnya, yang tak lain tak bukan
adalah Park Chanyeol, kakak dari Minra.
Pertukaran
sapa singkat terjadi karena ini pertama kalinya si kembar bertemu dengan
Chanyeol. Soojin dan Dongho secara diam-diam saling curi pandang walau tidak
diketahui satu sama lain, namun jelas terlihat oleh Joongki, yang sudah mulai
memberikan deathglarenya pada Dongho.
Atas desakan
Taehyung, akhirnya ia, Jina dan Dongho bergabung ke kelompok Minra dan
berkeliling wilayah festival dengan rusuh, terutama karena Taehyung tidak bisa
diam sama sekali. ‘Virus’ Taehyung tampaknya menyebar ke kakak-beradik Chanyeol
dan Minra, membuat mereka berdua juga ramai walau tidak ada yang bisa
mengalahkan Taehyung.
“Gagal!!” Ujar
salah satu mahasiswa kelas tiga yang menjadi penjaga stand permainan tembak
yang berhadiah boneka. Memang sedikit kuno, namun itu menjadi daya tarik karena
orang-orang yang belum pernah memainkannya. Joongki dan Chanyeol baru saja
gagal memainkannya, sementara Taehyung sudah memenangkan satu untuk Jina.
Tinggal Dongho
yang belum mencobanya. Sama seperti Taehyung, tanpa harus bersusah payah, ia
berhasil memenangkan hadiah yaitu salah satu dari boneka yang di pajang di atas
rak.
“Silahkan
pilih hadiah anda.”
Mata Dongho
mengamati satu persatu kado yang ada dan akhirnya menunjuk satu boneka. “Ini.”
Kata Dongho seraya memberikan boneka itu pada Soojin, yang menerimanya dengan
kaget. “Aku tidak suka boneka, dan kau suka boneka ini bukan?”
Soojin menatap
boneka yang baru ia terima itu dan memandang Dongho dengan tatapan kaget dan
tidak percaya.
“Bagaimana kau
bisa tahu aku menyukai boneka kuma?”
Dongho
tersenyum kecil, “Insting saja.”
Mau tidak mau
Soojin ikut tersenyum dan memeluk boneka itu. “Terima kasih.”
*
Dongho tidak
percaya hal ini.
Saudara
kembarnya sendiri baru saja meninggalkan ia sendirian di tengah kerumunan
penonton konser di akhir festival untuk hari itu.
Well, memang
tidak benar-benar sendirian, namun bersama Soojin. Namun itu justru membuat hal
ini menjadi semakin parah.
“Ia tidak
mengangkat teleponnya.” Kata Dongho pada Soojin. Pemuda itu sudah berusaha
menghubungi Taehyung mungkin delapan kali sekarang. Taehyung membawa pergi
Jina, Minra, Chanyeol dan bahkan Joongki. Entah cara apa yang di gunakan anak
itu sehingga berhasil membuat Dongho dan Soojin sendirian hanya dalam beberapa
menit.
“Oppa juga
tidak.” Kata Soojin. Tentu saja ia berusaha menghubungi kakaknya juga.
Kemungkinan besar mereka tidak bisa mendengar suara telepon mereka, mengingat
konser yang sedang berlangsung dan kerumunan orang yang ramai.
“Jangan
jauh-jauh dariku.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Dongho dan
berhasil membuat muka Soojin sedikit memerah. Gadis itu mengangguk dan
mendekatkan dirinya pada Dongho, dan tentu saja, muka Dongho turut memerah.
“Terima kasih
karena masih disini.”
Dongho menoleh
dan menatap Soojin dengan bingung, “Maksudnya?”
Soojin tertawa
gugup. “Ya aku tidak pernah menyukai konser seperti ini. Dan aku tidak suka
berada di tengah banyak orang.”
Dongho tidak
menjawab apapun. Namun ia tiba-tiba menggenggam tangan Soojin dengan lembut. “Tenang
saja, aku tidak akan kemana-mana.”
Walaupun
kaget, Soojin tidak menarik lepas tangannya dari genggaman Dongho. Mereka
berdua tetap berpegangan tangan, memanfaatkan kesempatan dimana tidak akan ada yang
menyadari hal itu karena semua orang sibuk dengan konser yang sedang
berlangsung. Dongho menoleh pada gadis disebelahnya itu. Mungkin ia harus
memastikan ‘itu’ sekarang?
“Soojin.”
Soojin tidak
menoleh, tampaknya suara lagu dan teriakan-teriakan orang lain memendam suara
Dongho sehingga gadis itu tidak bisa mendengarnya.
“Soojin.” Kata
Dongho lagi dengan suara yang lebih keras. Dan kali ini Soojin menoleh ke
arahnya.
“Ya?” Dongho tidak bisa mendengar
suara gadis itu namun ia bisa membaca bentuk mulutnya.
Dongho
menghela nafas dan berbalik menghadap Soojin, membuat gadis yang bersangkutan
menatap dengan bingung.
“Aku
menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?”
Soojin mengernyit,
berusaha sekuat tenaga menangkap kata-kata dari Dongho. Namun pemuda itu
berkata dengan cepat dan suara yang kecil. “Apa??” Balas Soojin dengan suara
keras.
Dongho
menggerutu kesal dan mengulangi kata-katanya, namun sama saja. Tidak
kedengaran.
“Keraskan
suaramu!!” Kata Soojin.
Dongho tampak
frustasi. Pemuda itu menghela nafas dalam-dalam dan mengatakannya sekali lagi
dengan suara keras yang bisa di sebut teriakan.
“AKU MENYUKAIMU.
MAUKAH KAU MENJADI PACARKU PARK SOOJIN??”
Setelah
meneriakan kata-kata itu, Dongho merasakan ada sesuatu yang aneh. Kenapa
suasana di sekelilingnya mendadak sepi. Pemuda itu menatap Soojin, yang membeku
dengan muka memerah, lalu ke sekelilingnya.
Semua orang
memandangnya dengan muka kaget dan tidak percaya. Masih bingung, Dongho menoleh
ke kanan dan ke kiri selama beberapa saat sebelum sebuah tepukan di pundaknya
menarik perhatiannya. Taehyung nyengir lebar memandangnya.
“Kawan, itu
adalah pengakuan cinta terhebat yang pernah ku lihat.”
Dongho
mengejap-ngejapkan matanya selama beberapa saat. “Kau mendengarnya?”
“Siapa yang
tidak? Kau berteriak tepat saat lagu berakhir dan suasana sedang sepi. Suara
teriakanmu juga keras kau tahu.”
Dongho bisa
merasakan darah naik ke kepalanya, membuat kepalanya kini merah dan terasa
panas. Namun apa yang bisa ia perbuat? Nasi sudah menjadi bubur, sekalian saja
di makan bukan? Pemuda itu menoleh ke arah
Soojin.
“Dan
jawabanmu, Park Soojin?”
Di
sekelilingnya, banyak orang menahan nafas mereka, seakan-akan mereka sedang
menonton pemain bola membawa bola dekat sekali ke gawang. Soojin menatap
sepatunya dengan muka merah padam. Gadis itu memang sudah menyukai kakak
kelasnya ini sejak beberapa pertemuan mereka yang lalu, namun terlalu takut
karena melihat fans Dongho yang tidak bisa di bilang sedikit itu.
Namun sekarang
Shin Dongho telah mengatakan bahwa pemuda itu menyukainya. Soojin menegakkan
kepalanya dan mengangguk.
“Katakan
dengan jelas.”
Sialan memang
pemuda ini.
“Aku mau, Shin
Dongho. Aku mau menjadi pacarmu.”
***
Suara teriakan
dan sorakan membuat telinga Minra sakit. Ia bisa melihat muka Soojin yang merah
namun bahagia dari tempatnya berdiri sekarang. Kakaknya sendiri, Chanyeol,
sedang berusaha menahan Joongki agar tidak berlari ke arah Dongho dan menerjang
pemuda itu.
“Wah. Aku
tidak tahu bahwa mereka dekat.”
Minra
terlonjak kaget ketika mendengar suara Mark dari sebelah kanannya. Seniornya
yang satu itu entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahnya. Mark tersenyum
pada Minra dan mengarahkan kepalanya ke arah Soojin dan Dongho.
“Sejak kapan
mereka dekat?” Tanya Mark.
“Sudah cukup
lama.”
“Hmm.. begitu.”
Kata Mark. Pemuda itu mendadak berjalan dan berdiri tepat di depan Minra, menghalangi
Minra. “Kau sudah mendapat pasangan di dansa akhir festival ini?”
Minra
menggeleng. “Belum. Biasanya aku berdansa dengan kakakku, tapi ia tidak bisa
hadir pada hari penutupan festival.”
Di hari
terakhir festival kampus mereka memang selalu ada acara dansa. Tidak wajib,
namun selalu menyenangkan untuk menghadiri acara itu. Kapan lagi kau bisa
berdansa selayaknya di cerita dongeng-dongeng?
“Kalau begitu,
tahun ini berdansalah denganku.”
Ajakan Mark
itu membuat mata Minra melebar kaget. Gadis itu tidak bisa menjawab karena ini
pertama kalinya ada pemuda yang mengajaknya secara blak-blakan seperti itu.
Mark tertawa dan mengusap kepala Minra dengan lembut.
“Kau tidak
perlu menjawab sekarang. Nah, aku masih ada pekerjaan. Sampai nanti!” Setelah
mengatakan itu, Mark melangkah pergi dengan santai, meninggalkan Minra yang
masih bingung hendak melakukan apa.
Baru saja
Minra sadar dari keterkejutannya, sebuah suara menganggetkannya lagi.
“Noona.”
Kali ini
Jungkook lah yang datang mendekatinya. Entah mengapa ekspresi wajahnya tidak
seperti biasanya.
“Ada apa
Jungkook?” Tanya Minra.
“Apakah Noona
akan pergi dengan sunbae-nim itu?”
Minra
terhenyak. Jungkook melihat Mark mengajaknya ke pesta dansa tadi? Gadis itu
menggigit bibir bagian bawahnya. Tampaknya ia tidak bisa menghindar dari
pertanyaan Jungkook, melihat dari cara pemuda itu menatapnya.
“Entahlah.
Mungkin?”
Jungkook hanya
menatap dalam diam sebelum ia mengalihkan pandangannya ke samping dan
mengatakan sesuatu dalam suara yang kecil. Mata Minra melebar kembali, tidak
percaya akan apa yang baru saja Jungkook katakan. Namun baru saja ia hendak
meminta Jungkook mengulangi kata-katanya, pemuda itu sudah berlari pergi dan
menghilang di kerumunan orang. Minra mengigit bibir bawahnya kembali, benarkah
Jungkook mengatakan hal itu tadi? Pemuda itu tadi mengatakan..
“Jangan pergi bersama
sunbae-nim itu, Noona.”
***TBC***
A/N : Huehuehuehue maaf lama~
As always, mohon maaf bila ada kesalahan *bows*
Made by : Liz
Take out with full credits
please~ ^^

0 komentar:
Posting Komentar