Minggu, 18 Januari 2015

You're My : Chapter 10



Disclaimer    : BTS and all Kpop artists are not mine. Jimin will be soon though (lol kidding).
OC belongs to their rightful owner, while the plot is mine.

Genre       : Romance, Friendship, Comedy, Fluff

"You’re My"
Chapter 10 : My Feeling


Shin Taehyung dan Shin Dongho berpandangan dengan muka cemas sementara sahabat sejak kecil mereka melipat lengannya di depan dadanya dan menatap si kembar dengan tatapan galak. Tampaknya apapun yang mereka berdua katakan tidak akan di terima semudah itu oleh Oh Haneul. Gadis itu tampaknya luar biasa kesal pada mereka.

"Jadi kalian yang memintanya melakukan hal itu." Kata Haneul dengan suara yang tenang, yang justru membuat Taehyung dan Dongho gugup.

"Itu demi keselamatanmu juga." Jawab Dongho.

"Tapi menyuruhnya menjauh saat itu bukan keinginannya untuk menyakitiku.." Kata Haneul. "Sudahlah, yang penting sekarang kalian tidak mengancam atau melarang pacarku lagi."

Baik Dongho maupun Taehyung membeku selama beberapa saat sebelum secara bersamaan mencengkram tangan Haneul dari dua sisi dan memandang gadis itu dengan tajam. Haneul berusaha mendorong mereka berdua namun sia-sia usahanya karena si kembar memperkuat genggaman mereka.

"Apa katamu tadi?" Kata mereka bersamaan. Haneul memukul tangan kedua pemuda itu, namun sekali lagi si kembar tidak melepaskan cengkraman mereka sama sekali. Melonggarkan saja pun tidak.

"Pacar." Akhirnya kata Haneul, menyerah dan memutuskan untuk memberitahu kedua pemuda itu walau tadinya ia bermaksud me'tease' mereka sebelum memberti tahu sejujurnya. "Kami sudah resmi berpacaran dua hari yang lalu."

"KAU BERCANDA." Teriak mereka berdua bersamaan sebagai respon. Haneul harus menginjak kaki mereka berdua agar berhenti berteriak tidak jelas sebagai lanjutan dari responnya itu.

"Tidak mungkin, BAGAIMANA BISA?!" Tanya Dongho. Kelihatannya luar biasa shock mendengar hal itu sementara Taehyung hanya membuka tutup mulutmya tanpa ada suara lainnya yang keluar. Haneul memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali memukul tangan kedua pemuda itu dan melepaskan diri dari cengkraman mereka.

"Reaksi kalian seakan-akan aku baru saja mengumumkan kiamat dunia." Gumam Haneul seraya mengelus tempat ia di cengkram tadi. Tentu saja terasa sakit karena kedua pemuda itu tidak tanggung-tanggung lagi. "Kami berdua saling mencintai, kenapa tidak?" Jawab Haneul dengan santai.

"Tidak! Tidak bisa di terima!!" Kata Taehyung dengan suara keras, "Kami tidak ak--hmph!" Kata-kata pemuda itu di potong dengan paksa oleh tangan Haneul yang menutupi mulutnya.

"Tidak. Kalian tidak akan mengubah keputusanku lagi." Ujar Haneul, dan dari nada bicaranya, itu keputusan finalnya. Mendengar perkataan Haneul, Dongho dan Taehyung akhirnya memutuskan untuk tidak mendebatnya lagi.

"Tapi kalau ia membuatmu terlibat kesulitan lagi, kami tidak akan tinggal diam." Gumam Dongho.

Haneul mengibaskan rambutnya kebelakang dengan tidak sabar dan menatap Dongho. "Kau terlalu cemas, memangnya apa yang akan terjadi?"

Namun sayangnya, kata-kata Haneul terbukti salah. Berita dengan cepat tersebar dan masalah pertama yang harus ia hadapi adalah menghadapi anggota kelompok pacarnya sendiri.

"Jadi, jika kalian menginginkan kalian aku mengundurkan diri, aku akan mengundurkan diri." Kata Jimin dengan tegas. Ia baru saja membawa Haneul ke depan anggota kelompok premannya dan menjelaskan situasinya. Haneul hanya berdiri di sebelahnya dan bingung harus melakukan apa selain memberi dukungan mental pada Jimin.

Seluruh preman yang biasanya tidak bisa diam itu kini diam seribu hahasa. Bingung dengan apa yang harus mereka lakukan ataupun katakan. Jimin telah mengusir Jackson dan menyisakan Suga sebagai wakil tunggal, namun pemuda berambut merah itu tidak mengatakan apa-apa dan malah menatap Haneul dengan pandangan yang tidak dapat di mengerti maksudnya.

"Kurasa.." Betapa kagetnya ketika J-hope lah yang pertama kali angkat suara, yang termuda dari kelompok inti Jimin. "Tidak perlu mengganti ketua bukan? Tidak ada salahnya bila Jimin hyung mempunyai pacar."

Kata-kata J-hope membuat anggota yang lain menggumam setuju, namun tidak ada yang berani membuat keputusan. Semua mata pada akhirnya tertuju pada Suga yany secara tidak langsung penentu keputusan final kelompok itu.

"Aku setuju dengan Hoseok." Kata Suga akhirnya, membuat seluruh kelompok bersorak. "Walau aku perlu bicara berdua dengan Jimin."

Dengan enggan, Jimin meninggalkan Haneul yang masih bersama kelompoknya dan mengikuti Suga yang membawanya ke tempat yang cukup sepi sehingga tidak ada yang dapat menguping pembicaraan mereka.

"Jangan khawatir, mereka tidak akan melakukan apapun pada gadismu." Kata Suga.

Jimin menggeleng, "Aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu sebenarnya." Suga kembali menatap ketuanya dengan tatapan tidak jelas. "Jadi, apa yang hendak kau bicarakan?" Lanjut Jimin.

Bukan kata-kata yang dikeluarkan oleh Suga, melainkan sebuah pukulan melayang dan tepat mengenai muka Jimin, membuat Jimin nyaris terjatuh ke belakang.

"Itu...yang ingin ku katakan." Kata Suga. "Tenang saja, satu satunya pukulan yang akan kuberikan padamu, dan aku tidak akan menentang mu lagi. Bahkan aku siap menerima hukuman, ketua."

Jimin tidak langsung menjawab. Sang ketua itu hanya menatap wakilnya selama beberapa lama sebelum kembali memasang ekspresinya yang biasa. Tangannya terangkat. Sesaat, Suga mengira Jimin akan memukulnya. Betapa kagetnya pemuda berambut merah itu ketika tangan Jimin malah mendarat di pundaknya.

"Tenang saja, aku tidak akan menghukummu."

Suga mengernyit, "Tidak akan?"

"Kau juga menyukainya bukan?"

Suga tidak bisa membalas kata-kata Jimin. Pemuda itu hanya membuang mukanya yang sudah mulai memerah. Jimin tertawa sebelum mencengkram pundak wakil sekaligus sahabatnya dengan keras.

"Namun, kau tidak akan kumaafkan bila kau merebutnya."

Suga menatap Jimin, lalu terkekeh pelan.

"Aku juga tidak akan memaafkanmu bila kau menyakitinya."

***

Shin Dongho menghela nafas frustasi dengan sangat keras, sehingga orang-orang yang berada disekitarnya menoleh dengan tatapan bingung padanya.

"Ada apa?" Tanya Taehyung pada saudara kembarnya itu.

"Kau terkena masalah?" Timpal Haneul yang juga bingung melihat tingkah Dongho.

Sang pemuda yang ditanyai itu menatap kedua orang terdekatnya dengan muka sebal, ia tahu maksud mereka baik tapi tetap saja..

"Bisakah kalian berpacaran di tempat lain saja?"

Shin Dongho merasa seperti kambing conge di meja itu. Siapa yang tidak? Taehyung duduk berdampingan dengan Jina di sebelah kirinya, dan Haneul duduk bersama Jimin di depannya, meninggalkan dia sendirian yang tidak memiliki pasangan.

"Tapi kau yang memaksa duduk bersama kita." Kata Haneul, geli melihat tingkah Dongho. Pemuda itu memang yang datang pada mereka karena meja lain di kantin kampus itu sedang penuh, dan Dongho suka enggan duduk bersama orang yang tidak ia kenal dekat.

Dongho mengeluarkan erangan frustasi. Ia tahu bukan salah kedua temannya, tapi tetap saja, itu membuatnya frustasi luar biasa.

"Kalau begitu.." Kata Taehyung sambil menepuk pundak Dongho, "Carilah pacar kawan." Kata-kata Taehyung membuat Haneul tertawa, dan tidak lama kemudian di susul oleh Jina dan Jimin walau kedua kakak beradik itu melakukannya secara diam-diam, merasa tidak enak pada Dongho.

"Bukankah kau bilang kau menyukai seseorang?" Goda Haneul, mengikuti jejak Taehyung. Keduanya bertukar pandangan iseng dan menunggu Dongho menjawab. Namun Dongho menolak untuk menjawab. Pemuda itu malah merajuk dan akhirnya berjalan pergi ke arah taman, meninggalkan Taehyung dan Haneul yang kembali tertawa.

Ia, Dongho, memang mempunyai orang yang ia sukai. Namun kalau ia menyatakan perasaannya, akankah ia diterima? Tidak lucu kan kalau dia, sang pangeran kampus, ditolak? Ia ingin memastikan perasaan gadis itu padanya.

Gadis yang mana lagi selain Park Soojin?

Sejak acara kencan tidak resmi mereka, hubungannya dengan Soojin memang semakin dekat namun tetap saja, Soojin masih terkesan menjaga jarak dengannya. Mungkinkah karena dia adalah sang pangeran kampus? Untuk pertama kalinya, Dongho sangat berharap dia bukanlah sang pangeran kampus.

Beberapa hari kemudian, universitas mereka ramai dengan festival yang sedang berlangsung. Setiap tahun sekitar kampus mereka selalu ramai dan di penuhi orang, tidak hanya mahasiswa dan mahasiswi saja, tapi orang lain pun bisa datang. Orang tua Dongho dan Taehyung adalah salah satunya.

"Sayang Hyunseok dan Eunhee tidak bisa hadir." Kata Daehyun. Pria itu menelepon Dongho dan Taehyung, meminta kedua putranya itu menemaninya berkeliling universitas mereka walau Daehyun selalu datang tiap tahun. "Dan halo nona Park, ku harap putraku memperlakukanmu dengan baik." Lanjut Daehyun pada Jina yang berjalan di sebelah Taehyung.

Muka Jina memerah. "I-ia memperlakukanku dengan baik kok." Jawabnya dan Taehyung merangkul pundak pacaranya.

"Jangan menggoda dia, Pa. Dia milikku."

Kata-kata Taehyung membuat ayahnya tertawa terbahak-bahak. "Dongho, kapan kau akan pacaran dengan Haneul?" Lanjut Daehyun.

"Tidak akan pernah." Jawab Dongho dengan datar. "Lagipula Haneul sudah punya pacar."

"Serius? Siapa pemuda beruntung itu?"

Dongho dan Taehyung berpandang-pandangan, seakan-akan berdiskusi tanpa suara mengenai apakah mereka boleh memberi tahu soal Jimin pada orang tua mereka atau tidak. Haneul sendiri telah berkata ia yang akan menjelaskan hubungannya dengan Jimin pada keluarganya, namun entah apakah itu artinya si kembar boleh menceritakannya pada keluarga mereka sendiri.

"D-dia.. kakakku." Jawab Jina, menyelamatkan si kembar dari kewajiban menjawab. Daehyun tidak tau siapa siapa kakak dari Jina tapi ia mengangguk-angguk seakan-akan mengerti dan mengenal semua orang.

"Wah!" Daehyun menoleh ke arah Taehyung. "Berarti secara tidak langsung kau saudara ipar dengan Haneul!" Katanya seraya menepuk-nepuk putranya itu. Taehyung sendiri hanya meng-iya-kan ayahnya dan berharap Daehyun tidak mencari tahu lebih jauh soal 'Pacarnya Haneul' ini.

Si kembar dan Jina terjebak selama beberapa saat bersama Daehyun selama kurang lebih dua jam sebelum berhasil melepaskan diri dari pria yang suka lupa umur itu, sifat yang sebenarnya di wariskan kepada kedua anaknya itu.

"Semoga papa tidak melihat Haneul.." Gerutu Dongho.

"Melihat Haneul yang super sibuk dan Jimin yang lebih suka berkumpul dengan kelompoknya di pojokan di saat seperti ini, kecil kemungkinan mereka terlihat bersama." Sahut Taehyung. Pemuda itu tidak melepaskan tangan Jina bahkan sejak mereka mengelilingi kampus mereka bersama Daehyun. Dan hal itu tentunya membuat Dongho menggerutu tidak jelas.

Taehyung tentu menyadari keadaan saudara kembarnya, dan itulah sebabnya ia semakin bersikap mesra dengan Jina. Dongho semakin kesal dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain, menolak untuk melihat Taehyung dan Jina.

Pemuda itu masih menggerutu kesal saat sesuatu menangkap perhatiannya. Park Soojin bersama seorang pemuda yang Dongho kenal sebagai kakak dari gadis itu dan Park Minra, sahabat Soojin, bersama seorang pemuda juga. Saat melihat Soojin, mau tidak mau Dongho merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Kau sedang melihat apa?" Tanya Taehyung, menyadari bahwa saudara kembarnya sedang menatap sesuatu. Dongho buru-buru mengalihkan pandangan, berharap Taehyung tidak menyadari ia sedang menatap Soojin atau dia bisa di ejek habis-habisan. Namun terlambat, Taehyung sudah melihat Soojin terlebih dahulu sebelum Dongho bisa menyeret kembarannya pergi.

Cengiran jahil mengembang di wajah Taehyung dan ia langsung membawa Jina serta menyeret Dongho ke arah Soojin dan rombongannya. “Minra!!” Kata Taehyung, berpura-pura yang hendak ia sapa adalah Minra walaupun sebenarnya tujuannya adalah membawa Dongho mendekati Soojin.

Park Minra menoleh, demikian dengan Soojin dan kedua pemuda yang lebih tua yang bersama mereka itu. “Oh, sunbae-nim.” Kata Minra saat melihat Taehyung yang berjalan mendekatinya. “Senior dari team sepakbola.” Lanjut Minra, namun bukan kepada Taehyung tapi pada pemuda yang berdiri di sebelahnya, yang tak lain tak bukan adalah Park Chanyeol, kakak dari Minra.

Pertukaran sapa singkat terjadi karena ini pertama kalinya si kembar bertemu dengan Chanyeol. Soojin dan Dongho secara diam-diam saling curi pandang walau tidak diketahui satu sama lain, namun jelas terlihat oleh Joongki, yang sudah mulai memberikan deathglarenya pada Dongho.

Atas desakan Taehyung, akhirnya ia, Jina dan Dongho bergabung ke kelompok Minra dan berkeliling wilayah festival dengan rusuh, terutama karena Taehyung tidak bisa diam sama sekali. ‘Virus’ Taehyung tampaknya menyebar ke kakak-beradik Chanyeol dan Minra, membuat mereka berdua juga ramai walau tidak ada yang bisa mengalahkan Taehyung.

“Gagal!!” Ujar salah satu mahasiswa kelas tiga yang menjadi penjaga stand permainan tembak yang berhadiah boneka. Memang sedikit kuno, namun itu menjadi daya tarik karena orang-orang yang belum pernah memainkannya. Joongki dan Chanyeol baru saja gagal memainkannya, sementara Taehyung sudah memenangkan satu untuk Jina.

Tinggal Dongho yang belum mencobanya. Sama seperti Taehyung, tanpa harus bersusah payah, ia berhasil memenangkan hadiah yaitu salah satu dari boneka yang di pajang di atas rak.

“Silahkan pilih hadiah anda.”

Mata Dongho mengamati satu persatu kado yang ada dan akhirnya menunjuk satu boneka. “Ini.” Kata Dongho seraya memberikan boneka itu pada Soojin, yang menerimanya dengan kaget. “Aku tidak suka boneka, dan kau suka boneka ini bukan?”

Soojin menatap boneka yang baru ia terima itu dan memandang Dongho dengan tatapan kaget dan tidak percaya.

“Bagaimana kau bisa tahu aku menyukai boneka kuma?”

Dongho tersenyum kecil, “Insting saja.”

Mau tidak mau Soojin ikut tersenyum dan memeluk boneka itu. “Terima kasih.”

*

Dongho tidak percaya hal ini.

Saudara kembarnya sendiri baru saja meninggalkan ia sendirian di tengah kerumunan penonton konser di akhir festival untuk hari itu.

Well, memang tidak benar-benar sendirian, namun bersama Soojin. Namun itu justru membuat hal ini menjadi semakin parah.

“Ia tidak mengangkat teleponnya.” Kata Dongho pada Soojin. Pemuda itu sudah berusaha menghubungi Taehyung mungkin delapan kali sekarang. Taehyung membawa pergi Jina, Minra, Chanyeol dan bahkan Joongki. Entah cara apa yang di gunakan anak itu sehingga berhasil membuat Dongho dan Soojin sendirian hanya dalam beberapa menit.

“Oppa juga tidak.” Kata Soojin. Tentu saja ia berusaha menghubungi kakaknya juga. Kemungkinan besar mereka tidak bisa mendengar suara telepon mereka, mengingat konser yang sedang berlangsung dan kerumunan orang yang ramai.

“Jangan jauh-jauh dariku.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Dongho dan berhasil membuat muka Soojin sedikit memerah. Gadis itu mengangguk dan mendekatkan dirinya pada Dongho, dan tentu saja, muka Dongho turut memerah.

“Terima kasih karena masih disini.”

Dongho menoleh dan menatap Soojin dengan bingung, “Maksudnya?”

Soojin tertawa gugup. “Ya aku tidak pernah menyukai konser seperti ini. Dan aku tidak suka berada di tengah banyak orang.”

Dongho tidak menjawab apapun. Namun ia tiba-tiba menggenggam tangan Soojin dengan lembut. “Tenang saja, aku tidak akan kemana-mana.”

Walaupun kaget, Soojin tidak menarik lepas tangannya dari genggaman Dongho. Mereka berdua tetap berpegangan tangan, memanfaatkan kesempatan dimana tidak akan ada yang menyadari hal itu karena semua orang sibuk dengan konser yang sedang berlangsung. Dongho menoleh pada gadis disebelahnya itu. Mungkin ia harus memastikan ‘itu’ sekarang?

“Soojin.”

Soojin tidak menoleh, tampaknya suara lagu dan teriakan-teriakan orang lain memendam suara Dongho sehingga gadis itu tidak bisa mendengarnya.

“Soojin.” Kata Dongho lagi dengan suara yang lebih keras. Dan kali ini Soojin menoleh ke arahnya.

“Ya?” Dongho tidak bisa mendengar suara gadis itu namun ia bisa membaca bentuk mulutnya.

Dongho menghela nafas dan berbalik menghadap Soojin, membuat gadis yang bersangkutan menatap dengan bingung.

“Aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?”

Soojin mengernyit, berusaha sekuat tenaga menangkap kata-kata dari Dongho. Namun pemuda itu berkata dengan cepat dan suara yang kecil. “Apa??” Balas Soojin dengan suara keras.

Dongho menggerutu kesal dan mengulangi kata-katanya, namun sama saja. Tidak kedengaran.

“Keraskan suaramu!!” Kata Soojin.

Dongho tampak frustasi. Pemuda itu menghela nafas dalam-dalam dan mengatakannya sekali lagi dengan suara keras yang bisa di sebut teriakan.

“AKU MENYUKAIMU. MAUKAH KAU MENJADI PACARKU PARK SOOJIN??”

Setelah meneriakan kata-kata itu, Dongho merasakan ada sesuatu yang aneh. Kenapa suasana di sekelilingnya mendadak sepi. Pemuda itu menatap Soojin, yang membeku dengan muka memerah, lalu ke sekelilingnya.

Semua orang memandangnya dengan muka kaget dan tidak percaya. Masih bingung, Dongho menoleh ke kanan dan ke kiri selama beberapa saat sebelum sebuah tepukan di pundaknya menarik perhatiannya. Taehyung nyengir lebar memandangnya.

“Kawan, itu adalah pengakuan cinta terhebat yang pernah ku lihat.”

Dongho mengejap-ngejapkan matanya selama beberapa saat. “Kau mendengarnya?”

“Siapa yang tidak? Kau berteriak tepat saat lagu berakhir dan suasana sedang sepi. Suara teriakanmu juga keras kau tahu.”

Dongho bisa merasakan darah naik ke kepalanya, membuat kepalanya kini merah dan terasa panas. Namun apa yang bisa ia perbuat? Nasi sudah menjadi bubur, sekalian saja di makan bukan?  Pemuda itu menoleh ke arah Soojin.

“Dan jawabanmu, Park Soojin?”

Di sekelilingnya, banyak orang menahan nafas mereka, seakan-akan mereka sedang menonton pemain bola membawa bola dekat sekali ke gawang. Soojin menatap sepatunya dengan muka merah padam. Gadis itu memang sudah menyukai kakak kelasnya ini sejak beberapa pertemuan mereka yang lalu, namun terlalu takut karena melihat fans Dongho yang tidak bisa di bilang sedikit itu.

Namun sekarang Shin Dongho telah mengatakan bahwa pemuda itu menyukainya. Soojin menegakkan kepalanya dan mengangguk.

“Katakan dengan jelas.”

Sialan memang pemuda ini.

“Aku mau, Shin Dongho. Aku mau menjadi pacarmu.”

***

Suara teriakan dan sorakan membuat telinga Minra sakit. Ia bisa melihat muka Soojin yang merah namun bahagia dari tempatnya berdiri sekarang. Kakaknya sendiri, Chanyeol, sedang berusaha menahan Joongki agar tidak berlari ke arah Dongho dan menerjang pemuda itu.

“Wah. Aku tidak tahu bahwa mereka dekat.”

Minra terlonjak kaget ketika mendengar suara Mark dari sebelah kanannya. Seniornya yang satu itu entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahnya. Mark tersenyum pada Minra dan mengarahkan kepalanya ke arah Soojin dan Dongho.

“Sejak kapan mereka dekat?” Tanya Mark.

“Sudah cukup lama.”

“Hmm.. begitu.” Kata Mark. Pemuda itu mendadak berjalan dan berdiri tepat di depan Minra, menghalangi Minra. “Kau sudah mendapat pasangan di dansa akhir festival ini?”

Minra menggeleng. “Belum. Biasanya aku berdansa dengan kakakku, tapi ia tidak bisa hadir pada hari penutupan festival.”

Di hari terakhir festival kampus mereka memang selalu ada acara dansa. Tidak wajib, namun selalu menyenangkan untuk menghadiri acara itu. Kapan lagi kau bisa berdansa selayaknya di cerita dongeng-dongeng?

“Kalau begitu, tahun ini berdansalah denganku.”

Ajakan Mark itu membuat mata Minra melebar kaget. Gadis itu tidak bisa menjawab karena ini pertama kalinya ada pemuda yang mengajaknya secara blak-blakan seperti itu. Mark tertawa dan mengusap kepala Minra dengan lembut.

“Kau tidak perlu menjawab sekarang. Nah, aku masih ada pekerjaan. Sampai nanti!” Setelah mengatakan itu, Mark melangkah pergi dengan santai, meninggalkan Minra yang masih bingung hendak melakukan apa.

Baru saja Minra sadar dari keterkejutannya, sebuah suara menganggetkannya lagi.

“Noona.”

Kali ini Jungkook lah yang datang mendekatinya. Entah mengapa ekspresi wajahnya tidak seperti biasanya.

“Ada apa Jungkook?” Tanya Minra.

“Apakah Noona akan pergi dengan sunbae-nim itu?”

Minra terhenyak. Jungkook melihat Mark mengajaknya ke pesta dansa tadi? Gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya. Tampaknya ia tidak bisa menghindar dari pertanyaan Jungkook, melihat dari cara pemuda itu menatapnya.

“Entahlah. Mungkin?”

Jungkook hanya menatap dalam diam sebelum ia mengalihkan pandangannya ke samping dan mengatakan sesuatu dalam suara yang kecil. Mata Minra melebar kembali, tidak percaya akan apa yang baru saja Jungkook katakan. Namun baru saja ia hendak meminta Jungkook mengulangi kata-katanya, pemuda itu sudah berlari pergi dan menghilang di kerumunan orang. Minra mengigit bibir bawahnya kembali, benarkah Jungkook mengatakan hal itu tadi? Pemuda itu tadi mengatakan..

“Jangan pergi bersama sunbae-nim itu, Noona.”

***TBC***

A/N : Huehuehuehue maaf lama~
As always,  mohon maaf bila ada kesalahan *bows*

Made by : Liz
Take out with full credits please~ ^^

0 komentar:

Posting Komentar